Deretan huruf rapi di keyboard memanggil setiap jemariku untuk menekannya. Satu persatu huruf terangkai menjadi kata, lalu kalimat, paragrap dan akhirnya menjadi sebuah prosa indah. Aku ingin menulis sesuatu yang indah, menggetarkan dan inspiratif. Aku ingin setiap kata yang tersusun bermakna dalam. Aku ingin kalimat itu berbaris cerdas serta sarat pengetahuan, tidak kosong apalagi penuh omong kosong.
Aku ingin membuat kamu tersenyum simpul membacanya. Oh, bahkan aku ingin menyentuh getaran dadamu saat melafalkan bait-bait yang kususun rapi. Pun aku ingin perlahan mengecup kedua matamu saat menyisir lembut kalimat yang kutuangkan dengan sejuta rasa.
Akankah kau bergetar?Akankah kau menyukainya? Akankah ini layak dipublikasikan?Aku ingin hebat! Menjadi spektakuler! Ini harus menjadi perdebatan panjang yang menyenangkan.
Dan aku mulai menulis dan menulis, meramu jutaan kata menjadi lebih bermakna. Saat semua selesai aku kembali kecewa. Ternyata ini tak hebat. Tak mendekati layak. Tak juga CERDAS!. Jauh dari topik pembicaraan sama sekali.
Tempatnya hanya trash. Yes, Ctrl A lalu delete. Selesai, aku puas. Tak perlu mempermalukan diri sendiri dengan sebuah karya buruk rupa. Sangat tak berbakat, kurang kerja keras, apalagi ketelitian. Pemalas! Umpatan-umpatan tersebut meluncur deras lewat gumaman mulutku yang tertahan.
Dalam hal ini terimakasih buat teknologi canggih yang membuat satu ruangan ini mengenakan headphone serta sibuk dengan dirinya masing-masing. Sungguh menyedihkan hanya bisa menyesali diri tanpa membuat kemajuan berarti. Cukup!Aku berhenti! Ini jelas bukan duniaku. Tak cocok di sini. Saatnya berhenti menulis untuk selamanya.
Hari demi hari tanganku berhenti menyentuh keyboard. Tetapi otak ini terus saja menjalin kata menjadi sebuah prosa. Lalu timbul gemuruh temaram di dalam sini. Perlahan kutarik napas panjang, berharap dengan satu tarikan lembut semua itu akan teredam. Gemuruh itu pun menghilang, semua kembali tenang sesaat. Akan tetapi seperti layaknya air laut yang pergi kemudian dengan cepatnya kembali menghempas ke pantai, menghasilkan sebuah deburan yang dahsyat. Ombak itu menyenandungkan suara gemuruh indah. Irama yang bertalu-talu kian kuat. Dentuman itu tak lagi bersemayam di jantung melainkan menjalar ke otak. Pecaaaaaaah!.
Sekali lagi jari-jemari tergelitik untuk kembali menari di atas papan kata. Mata ini merindu menatap layar putih yang perlahan tapi pasti menelurkan huruf-huruf yang terus berbaris rapi dari kiri ke kanan. Aku tak bisa berhenti.
Otakku berkhianat!!! Ia memerintahkan sepuluh jari bodoh itu menari bergantian. Sebuah kudeta kampungan mengambil alih kendali tubuh dari diriku. Sungguh kekurangajaran tak termaafkan memerintah di luar kemauanku.
Ia bahkan berani menghasut telinga mendengarkan bunyi papan kata tersebut seolah melantunkan sebuah maha karya sang maestro. Aku marah! Aku harus berhenti. Dan aku berhenti saat semua selesai.
Seperti kuduga sebuah skenario lama terulang. Ini Sampah! Ctrl A lalu delete. Selesai lagi dan aku kembali puas.
Kupejamkan mata dan mencoba memahami apa yang otakku ingin sampaikannya. Baiklah akan kudengarkan pembelaan dirinya. Dan akan kuingatkan betapa beruntung ia mempunyai aku sang pemaaf.
Tanpa kuduga dengan marah ia berkata : Aku benci harus selalu benar, harus selalu bertutur mengalir serta sistematis. Aku benci harus melahirkan kalimat cerdas. Aku tertekan dengan ketakutan tak realistismu akan sebuah kritik pedas dan hinaan. Tahukah kau bahwa aku bisa saja meledak? Aku hanya ingin menulis. Maukah egomu bekerja sama denganku?
*Tulisan ini pernah publish pada sebuah blog milik penulis. Blog yang telah menjadi bangkai, terkubur di jagad internet yang luas*
Komentar