Stalker


Mulai deh, sok analisa wacana kritis, membedah kata-kata dalam sosial media yang kau post. Mencari kolerasi dengan postingan sendiri. Apakah itu untuk saya? Apakah itu balasan dari sesuatu hal random yang saya post? Tak ketinggalan menghubungkan dengan dia, kekaksih kamu itu. Dia yang selalu posting dengan simbol-simbol mesra seperti kecup, cubit atau belai *sumpah pengen nimpuk jadinya* 

Sungguh gila rasanya  atau jangan-jangan  saya itu gila beneran. Kemungkinan lain  yang lebih real adalah saya justru jenius, hingga mampu menyembunyikan segala kegilaan dalam diri *busung dada*. Lebih fantatis lagi, saya itu berbakat menjadi seorang aktris sekaliber Oscar. Saking canggihnya kemampuan akting saya, mampu menipu seluruh orang bahwa saya normal atau waras.

Atau,

Saya itu mengalami perasaan seperti kutipan tentang cintanya: Francoise Sagan, seorang penulis cerita romantis tahun 1950an:

“I have loved to the point of madness; That which is called madness, That which to me, is the only sensible way to love.”

Kegilaan yang mampu membuat saya terjaga tengah malam, memangkas jam-jam tidur yang berharga hanya  untuk melakukan  riset tentang kamu. Bayangkan dengan kurang tidur saya meningkatkan risiko mengalami penuaan dini. Sungguh sebuah pengorbanan besar atas nama cinta.

Yah begitulah, saya tak mengindahkan kebutuhan sel-sel tubuh untuk regenerasi menghasilkan sel-sel baru. Membiarkan proses peremajaan kulit wajah yang hanya terjadi malam hari saat tertidur hilang. Semua momen penting sebuah kecantikan saya ganti dengan  menelurusi segala jejaring sosial hanya untuk menemukan kamu. Apa saja, foto, komentar, posting atau mungkin blog. Mengumpulkan segala informasi tentangmu, menjadi jadwal khusus dan hobi paling akut belakangan ini.

Menjadi stalker dan melakukan perilaku stalking tak pernah semenyenangkan ini. Teknologi membuat segalanya mudah. Secuil info dari sana sini yang terkumpul mencoba membaca suasana hatimu, mencerna pola pikir kamu, menebak perangai serta sikapmu sesungguhnya. 

Diam-diam mencoba mengenalmu lebih dekat, sering kali lepas kendali tanpa sadar berjingkrak kegirangan menemukan banyak kesamaan antara kita. Lalu menyadari hal-hal yang berbeda justru itulah yang saya cari dari seorang belahan jiwa.

Ingatkah saat kita dulu masih belia dan mulai tertarik pada lawan jenis? Kita sadar atau tidak, melakukan beribu cara agar selalu berada dalam radarnya. Bahkan saat bersepeda selalu berusaha mengambil rute melewati rumahnya. Meski tak bertemu tapi melihat dinding rumahnya saja sudah membuat riang hati. Perbedaannya dulu lihat dinding rumahnya bahagia, saat ini melihat dinding Facebook-mu membuat hati melonjak kegirangan. 

Kamu pasti tak pernah tahu kalau setiap hari saya selalu menyempatkan memandang fotomu. Menahan segala godaan buat mengunduhnya, takut kalau  kamu menyadari seseorang yang mengambil fotomu itu saya. 

Hingga, sebuah serangan jantung ringan dan hampir saja membuatku stroke saat menemukan dia, gadis yang kamu pacarin itu. Mungkin itu sebabnya kalau naksir orang dibilang crush, sebab perasaan itu  juga yang bakal kamu alami saat menerima kenyataan dia tidak merasakan hal yang sama. Crush juga bisa berarti  hancur, hancur hati ini rasanya. Penderitaan yang paling menyebalkan adalah merasakan patah hati tapi nggak bisa marah atau sedih. Lha, gimana bisa patah hati dan kecewa orang pacaran aja kagak *jedotin kepala ke keyboard*

Lalu pertanyaannya selanjutnya, apakah aksi membuntuti via dunia maya ini berakhir?

Oh, tentu tidak! Malah jumlah orang yang harusnya di-stalking *kata yang ngaco* bertambah, kamu dan dia. Sambil terus meladeni kegilaan diri menahan perih demi perih melihat kemesraan kalian, hingga ingin bunuh diri rasanya.

*Kisah fiktif ini terinspirasi oleh fenomena sosial media di sekitar saya*

Komentar

Baba CiLukba mengatakan…
“The love you can’t have lasts the longest, feels the strongest and hurts the most.”