“Menulislah yang kau tahu” itu adalah resep dasar dari menulis. Kalau penulisnya tidak memahami atau memiliki pengetahuan tentang hal yang ingin ditulis ya, tak mungkin bisa menjabarkannya. Makanya, ada yang namanya, bertanya kepada pakar (narasumber), serta paling penting riset yang berkaitan dengan subyek yang ingin ditulis.
Cita-cita sih, ingin sekali menerbitkan novel. Author sudah menjadi lifetime goal yang hingga saat ini belum kesampaian. Kalau mau menjabarkannya, akhirnya akan berdiri pada satu kesimpulan semua itu hanya alasan.
Awal merintis karier, salah satu tanggung jawab saya adalah menulis review buku. Sebagai penggila novel tentu saja ini adalah pekerjaan impian. Bagaimana tidak, saya dibayar untuk membaca novel. Tetapi kenyataannya tak seindah itu. Tumpukan novel baru yang dikirimkan penerbit di meja saya, tak semuanya menyenangkan untuk dibaca. Kesulitan untuk memilih yang akan tampil tidak seberapa dibandingkan menuntaskan membacanya. Sebab, tak semua novel tersebut isinya “menggigit”.
Salah satu penulis pujaan saya adalah Pramoedya Ananta Toer.Ia pernah mengatakan kalau menulis itu harus berani. Kurang lebih seperti itulah. Saat itu, pemahaman saya tentang pernyataan sang maestro adalah: jangan takut dikritik, dicaci ataupun dibilang jelek. Lalu saya pun ingin menulis buku dan bertekad menerbitkannya.
Ingin menerbitkan buku? Langkah awal, duduk dan menulisnya!
Akhirnya saya duduk dan mulai menulis. Awalnya teenlit, setelah dua tahun
selesai juga kisah itu. Lalu saya membacanya dan tidak suka. Kok, begini amat
yah!
Lalu mencoba menuliskan kisah yang lebih dewasa, kemudian mencoba menulis pengalaman menjadi ibu, hasilnya
juga sama. Saya sebagai penulis ketika membaca karya saya sendiri saja tak
puas.
Akhirnya karya-karya yang selesai maupun tidak itu, hanya tersimpan
membusuk di hardisk notebook. Padahal notebook-nya saja sudah tiga kali
berganti. Artinya seluruh file itu sudah
tiga kali pula pindah rumah.
Lalu saya termangu, hanya bisa membatin: “Dari mana
penulis-penulis hebat tersebut bisa mendapatkan ide begitu cemerlang?” sedangkan saya
kok, hanya biasa-biasa saja. Atau karena
pengetahuan saya memang kurang, maka tak bisa menghasilkan sebuah karya yang
layak. Paling tidak untuk diri sendiri.
Maka, saya pun
membaca dan membaca. Berusaha memahami karya penulis dalam dan luar negeri. Bagaimana mereka bisa merangkai
kata begitu indah, mengalir serta mengetarkan jiwa pembacanya.
Saya pun keranjingan membaca rentetan qoute dari penulis
kelas dunia tentang pendapat mereka soal menulis. Suatu pagi, saya tersedak, termangu serta terdiam untuk waktu
yang cukup lama menemukan qoute Anais Nin (padahal jujur, saya saja tak pernah
membaca bukunya)“The role of a writer
is not to say what we can all say, but what we are unable to say”
Itu dia! Saya pun mulai menyadari sebab kehambarkan cerita yang saya ramu. Hingga akhirnya, saya
mengambil sebuah keputusan yang berani. Meninggalkan pekerjaan saya, dan mulai
serius menggarap novel. Selama empat bulan, terhitung dari Maret hingga Juli
2013 tujuan saya hanya satu: menulis novel.
Selama kurun itu pun, saya menyadari sebuah kenyataan pahit. Bahwa yang dimaksud Pram dengan “berani” bukan sebatas kritik. Namun berani menuangkan semua yang ada di dalam jiwa. Pikiran-pikiran terdalam, maupun terkelam. Berani untuk jujur kepada diri sendiri, apa yang kita saksikan, pahami, pikirkan dan rasakan.
Selama ini saya merasa, bahwa saya adalah perempuan pemberani. Berani dalam bersikap, berpendapat, tahu apa yang saya inginkan dan tidak hanya duduk diam
menunggu. Tetapi selama proses penulisan saya sadar, ternyata
saya tak seberani yang saya kira. Ternyata: Saya Pengecut!
Selama ini saya kira menulis adalah mengeluarkan isi kepala
dan rasa. Tetapi dalam perjalanan saya menulis, tidak selalu seperti itu. Menulis bukan sekadar bentuk pengeluaran ekspresi diri. Menulis lebih pada penggalian yang ada di dalam jiwa. Menulis bagi saya, ajaibnya membuat saya menemukan diri, mengenali saya sendiri lebih dalam. Bersentuhan dengan kejujuran pada diri sendiri terlepas dari nilai yang mapan. Itulah
mengapa menulis merupakan sebuah aksi keberanian.
Saya tidak ideal, hidup saya tidak ideal, dunia yang saya tinggali
dan nilai saya pahami jauh dari ideal. Tetapi untuk menulis sesuatu dari dalam dengan
sejujur-sejujurnya, menurut sudut pandang saya yang juga sejujur-jujurnya, dibutuhkan lebih dari keberanian yang
selama ini saya pikir saya miliki.
Di tengah rasa frustasi, saya pun menghabiskan malam chat via
WhatsApp dengan seorang kawan. Bicara ngalor-ngidul mulai dari tas idaman yang saat ini tak mampu dibeli,
rencana liburan yang lebih sering gagalnya, blog yang enggak pernah update, hingga hal-hal absurd seperti
ketakutan-ketakutan saya dalam menuangkan ide yang membuncah di benak.
3.12 am - “Juxtaposition
being a writer. Lo mo idealis atau normatif... paradox...”
3.13 am - “Ada jalan
tengahnya kah? I dont think so...”
Indeed, Saya sangat setuju dengannya, tidak ada jalan tengahnya!

Komentar