Bosan



“Writing about a writer's block is better than not writing at all”
― Charles Bukowski

Percayalah, sudah sejak lama saya tak pernah mengangap saya berarti atau memiliki bakat menulis. Sungguh, mungkin saya sakit jiwa atau hanya satu dari sekian manusia pemalas yang kerjanya hanya bisa menggerutu.

 Saya juga tak pernah merasa pintar dan bagian dari kaum intelektual meski saya punya transkrip nilai yang bagus dari universitas bagus juga. Intinya, saya diusia yang matang ini, masih berjiwa labil, penyakitan dan terserang ketidakpercayaan diri yang luarbiasa akut, harusnya saya mengikuti terapi kejiwaan dengan tarif per jam, yang tak mungkin saya mampu bayar itu.

Ah, sudahlah. Saya juga sering terserang keheranan memilih karier sebagai penulis. Penulis itu harusnya disiplin, menjadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan, bukan menunggu mood atau ide yang tak selalu brilliant. Seperti saat ini, harusnya saya menyelesaikan sebuah artikel yang paling hanya 500an kata tentang online payment, malah terjebak oleh kuis-kuis di Facebook, tentang Harry Potter, Divergent, dan Hunger Game, lalu mengisap rokok hampir sebungkus, tanpa mampu menyelesaikan satu artikel pun. Padahal semalas-malasnya, sesusah-susahnya topik yang diberikan akan dapat saya selesaikan dalam waktu tiga jam. Sekarang pukul 16.00 lewat, saya malah menggerutu di blog, yang hampir tak pernah saya isi kembali.

Telah cukup lama saya kehilangan kebiasaan menulis setiap hari, menjadikan menulis adalah hal yang pertama saya lakukan saat bangun di pagi hari. Saat itu menulis seperti ekstasi saya dalam hidup. 

Pernah beberapa kali saya menyerah, karena depresi tak juga mampu menelurkan sebuah novel bagus (paling tidak menurut saya). Namun, dapat dipastikan setiap kali saya menyerah, besoknya saya akan mulai menulis lagi. Kembali jatuh cinta lagi pada pekerjaan merajut kata. Saya akan kembali merengutkan dahi untuk merangkai sebuah kalimat yang tak hanya harus baik namun juga benar, atau putus asa ketika editor tak puas dengan hasilnya. Kemudian mengulang kembali dengan perasaan tertantang. Saya kehilangan hal tersebut, semua itu hanya karena saya: BOSAN. 

Saya pun bosan menunggu kebosanan menjadi bosan bersamaku.

Komentar

Rifki Aria mengatakan…
What a nice piece of writing you have. Should do this much more often.