Gue bukan pengidap insomnia, setidaknya itulah yang gue
percaya. Meski ada kalanya mata ini tak mau terpejam walau tubuh sudah lelah. Konsukuensi yang harus ditanggung besoknya adalah menghabiskan dua mug besar kopi
tubruk.
Alasan tak mau mengakui diri sebagai pengidap insomnia sebab, hal ini tidak rutin terjadi. Hanya berupa serangan tiba-tiba. Lebih persisnya kayak panu yang tiba-tiba muncul.
Rasanya hampir mustahil memikirkan penyebabnya. Stres, kah? Lha, kalau stres gue malah tidur mulu. Sudahlah nikmati saja, sambil terus berusaha dan berharap untuk tidur. Ayolah, besok kerja.
Biasanya gue akan habiskan malam penuh penyiksaan ini dengan menonton film atau televisi. Layar kaca dan gambar bergerak lebih sering berhasil
membuat gue tertidur. Biasanya.
Aktifitas pulang kantor sehari-hari adalah nonton film atau televisi, tak lama kemudian terlelap. Iya, tertidur dengan TV masih menyala.
Sekali lagi, itu biasanya. Berbeda dengan
membaca justru, membuat gue lupa waktu, tiba-tiba tersentak oleh adzan subuh dari mesjid dekat rumah.
Pilihan film yang ditonton tak jauh-jauh dari film remaja. My guilty pleasure. Gue enggak peduli ceritanya alay atau sampah, pasti gue tonton. Apalagi kalau cerita berkisar di seputar sekolahan.
Semalam pilihan jatuh kepada 10 Things I Hate About You. Percaya tidak, meski
itu film legend banget, gue cuma pernah nonton sekali. Serius! Bahkan semalam gue baru ngeh kalau Heath Ledger, pemeran utamanya. Plus gue juga lupa jalan ceritanya.
Singkat cerita, setelah menontonnya lima menit pertama, langsung mengembalikan
ingatan akan jalan ceritanya. Kontan dong, langsung nunggu-nunggu momen Heath
Ledger nyanyi “Can’t Take My Eyes of You” terus dikejar-kejar polisi, dan yang paling juara saat Julia Stiles membacakan puisinya.
10 Things I Hate
About You
I hate the way you talk to me,
and the way you cut your hair.
I hate the way you drive my car,
I hate it when you stare.
I hate your big dumb combat boots
and the way you read my mind.
I hate you so much it makes me sick,
it even makes me rhyme.
I hate the way you’re always right,
I hate it when you lie.
I hate it when you make me laugh,
even worse when you make me cry.
I hate it when you’re not around,
and the fact that you didn’t call.
But mostly I hate the way I don’t hate you,
not even close…
not even a little bit…
not even at all.
and the way you cut your hair.
I hate the way you drive my car,
I hate it when you stare.
I hate your big dumb combat boots
and the way you read my mind.
I hate you so much it makes me sick,
it even makes me rhyme.
I hate the way you’re always right,
I hate it when you lie.
I hate it when you make me laugh,
even worse when you make me cry.
I hate it when you’re not around,
and the fact that you didn’t call.
But mostly I hate the way I don’t hate you,
not even close…
not even a little bit…
not even at all.
Tetapi bukan hanya dua scene itu yang membuka ingatan lama.
Gue jadi ingat, kalau film inilah pertama kali gue tahu kata feminist dan patriarki. Penasaran gila sama sosok Simone de Beauvoir, Sylvia Plath, bahkan Hemingway.
Mereka itu siapa? Nulis buku apa? Jadi kepingin baca bukunya.
Pun keinginan kuat untuk
membaca Shakespeare. Namun jawabannya baru bisa gue temukan delapan bulan
kemudian, di sebuah perpustakaan universitas di Depok. Well... tidak semuanya
sekalian, tapi satu-persatu.

Komentar