Resensi Buku: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas




“Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala.” 

Dua bocah tanggung, Ajo Kawir dan kawannya menyaksikan perkosaan terhadap seorang perempuan gila yang dilakukan dua orang polisi. Akibat trauma masa belia tersebut, kemaluan Ajo Kawir menjadi lumpuh dan tak dapat bangkit.

Ya, novel ini berkisah seputar dengan kegelisahan hidup Ajo Kawir dengan burung yang tidak bisa "bangun" tersebut. Ia tumbuh menjadi lelaki pemarah, tukang kelahi, dan tanpa takut. Di tengah semua rasa frustasinya, ia pun  menemukan cinta hal tersebut pun tak bisa membuat hidupnya jauh lebih baik. Ia tidak mampu menjadi lelaki seutuhnya bagi sang kekasih.

Menarik dari novel ini tak hanya terletak dari taburan kata-kata kotor di dalamnya.Sebut saja kata-kata yang digolongkan sebagai kata kasar, kotor, dan tak berpendidikan seperti, memek, kontol, ngentot, dituturkan dengan lugas dalam novel ini.

Tentu seks dan pelacuran juga menjadi bumbu dari novel ini, yang menjadi satu kesatuan dengan cerita. Selain kata-kata kotor yang begitu lugas, novel ini mengangkat kehidupan masyarakat pinggiran kelas bawah, dan tentu saja kehidupan preman yang dipiara oleh penguasa, kemudian ketika mereka sudah tak dibutuhkan, mereka akan dihabisi satu-persatu.

Komentar