Yuk, Bentengi Diri dari Kanker Serviks




HPV (Human papillomavirus) jenis HPV 16 dan HPV 18, berpotensi besar memicu terjadinya kanker serviks. Virus ini menjadi penyebab utama kanker serviks yang menjadi pembunuh ke- 3 di Indonesia. Data yang dirilis oleh WHO/ICO Information Centre on HPV and Cervical Cancer tahun 2012 mengungkap sebuah fakta yang mengerikan bahwa dalam setiap satu jam, satu wanita Indonesia meninggal karena kanker serviks. Bahkan dalam sehari diprediksi terdapat 58 kasus baru setiap harinya.

Kondisi yang mengkhawatirkan ini mendorong organisasi seperti Himpunan Onkologi & Ginekologi Indonesia (HOGI), bersama dengan Indonesian Working Group on HPV (IWG-HPV), Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Yayasan Peduli Kanker Serviks (YPKS), Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), dan Kalyanamitra membentuk Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks atau KICKS. 

“Dengan terbentuknya Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks, kami jajaran pendiri mengharapkan dapat melangkah bersama masyarakat dalam membebaskan Indonesia dari kanker serviks dan virus HPV serta meningkatkan rasa tanggung jawab bersama untuk menjaga kesehatan sendiri dan juga masyarakat luas,”ujar Ketua Umum Indonesian Working Group on HPV Prof. Dr. dr. Andrijono, SpOG(K).

Misi yang diusung adalah meningatkan kesadaran masyarakat luas akan bahaya kanker serviks serta penyakit lainnya yang disebabkan oleh HPV, dan tentu saja cara pencegahannya. Pencegahan menjadi program yang penting bagi penanggulangan bahaya kanker servik. Pencegahan dapat dilakukan dengan deteksi dini, yakni skrining nasional bagi perempuan yang sudah menikah dan vaksinasi HPV nasional bagi anak sekolah dasar. 

Skrining yang dikhususkan bagi perempuan yang sudah menikah mencakup:

Tes larutan asam asetat. Kulit di bagian genital yang terinfeksi virus HPV akan berubah menjadi putih setelah diolesi larutan asam asetat sehingga mudah terdeteksi.

Pap smear dan tes DNA. Dalam tes ini, dokter akan mengambil sampel sel-sel dari serviks dan vagina untuk diperiksa di laboratorium. Tes Pap smear juga dapat digunakan untuk mendeteksi keabnormalan sel serviks yang dapat berubah menjadi kanker.

Sedangkan untuk anak-anak perempuan dilakukan dengan vaksinisasi HPV. Kegiatan vaksinasi HPV pada saat ini telah memasuki tahap demonstrasi yang diimplementasikan melalui kegiatan imunisasi bagi siswa perempuan kelas 5 Sekolah Dasar di provinsi DKI Jakarta dan DI Yogyakarta tahu 2016 dan 2017, melalui program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah).

“Dibutuhkan edukasi yang berkelanjutan terhadap masyarakat luas bahwa Vaksin HPV merupakan investasi kesehatan sebagai langkah perlindungan dari berbagai macam penyakit di masa depan yang diakibatkan oleh HPV, terutama HPV tipe 16 dan 18 yang mengakibatkan kanker serviks,”tutup Ketua Yayasan Kanker Indonesia DKI Jakarta Veronica Tan.



Komentar