Merangkul Awal Baru di Usia 40-an

Life begins at 40? Yes! Really? Well…..

Jujur saya sendiri tak tahu harus melanjutkan kalimat tersebut. Sebab awalnya, Yes! Lalu berubah menjadi pertanyaan, really? Awal 2020 jelang usia memasuki usia 40-an saya akhirnya mendapatkan pekerjaan impian, di organisasi yang bagus. Meski hanya pegawai kontrak saat itu, tapi pekerjaan ini sesuai sekali dengan minat dan renjana saya. Hanya saja usia yang seharusnya menjadikan seorang perempuan memasuki tahap kematangan emosional dan finansial, malah terjadi berbanding terbalik bagi saya.


Pandemi yang menyerang juga turut memukul telak hidup saya, sebagian besar keluarga terserang Covid, bahkan saya harus kehilangan seorang kakak tercinta selama pandemi. Ditambah double depressions yang sudah saya derita beberapa tahun sebelumnya, dan dengan terapi dan obat-obatan terkontrol baik mulai terasa lebih berat. Seolah terapi yang saya jalani mengalami kemunduran telak. Saya harus mengganti obat-obatan dan kembali beradaptasi dengan obat yang baru. Butuh delapan bulan akhirnya berhasil menemukan dosis yang tepat. 


Semua hal tersebut, tentu saja memengaruhi pekerjaan baru yang saya cintai itu. Saya sulit fokus, mengalami banyak mental breakdown, bahkan sempat menangis dalam meeting. Jangan tanya performa kerja saya, bahkan saya sendiri merasa malu terhadap hasilnya. Saya gagal telak, akhir cerita karier tersebut harus kandas, setelah berjuang bertahan selama dua tahun.


Krisis demi krisis pun silih berganti mampir, saya kembali dihadapkan terhadap krisis identitas layaknya anak kemarin sore. Di usia yang seharusnya matang ini, saya justru dihadapkan perubahan besar dalam identitas dan peran. Saya mungkin telah menyelesaikan fase pendidikan, memiliki karier yang mapan (yang akhirnya kandas), atau menjalani peran sebagai ibu dan pasangan. Namun, mulai merasakan kebingungan atau kehilangan arah.Kehampaan mulai merasuki benak dan hal tersebut berlanjut hingga kini. Hal ini membuat saya kembali berpikir mencari makna yang baru, dan mencoba memahami diri sendiri kembali.


Selain pencarian kembali jati diri yang hilang, justru di usia 40-an saya mulai merasa terganggu dengan perubahan fisik, emosional, dan psikologis. Kecemasan berlebihan menghadapi penuaan dan perubahan penampilan secara fisik (padahal sebelumnya sangat tidak peduli). Tapi ini justru membuat saya jadi lebih rajin merawat diri, perubahan drastis yang tadinya mandi saja cukup, kini mulai melirik kepada rangkaian skin and body care yang selama ini sering terabaikan hingga kadaluarsa.


Kembali ke masalah karier, a friend told me that being in your 40s means being too old to start something new, yet too young to retire. Usia 40-an sering menjadi masa transisi penting dalam kehidupan perempuan. Pada tahap ini, perempuan (khususnya saya) menghadapi krisis karier yang menuntut keberanian, refleksi, dan tindakan untuk mencapai puncak keberhasilan profesional. 


Perempuan di usia 40-an sering menghadapi krisis karier yang meliputi ketidakpuasan, stagnasi, atau perubahan arah karier. Krisis ini sering kali dipicu oleh perubahan peran, tnggung jawab, keinginan untuk eksplorasi, dan pencapaian yang lebih besar, serta kebutuhan untuk mencapai keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi.


Mungkin saya di usia 40-an ini perlu meluangkan waktu untuk merenungkan visi, tujuan, dan nilai-nilai kembali. Pertanyaan-pertanyaan penting untuk dipertimbangkan meliputi harapan saya dari karier di masa depan perlu dijawab. Di usia 40-an saya mulai merasa perlu mempertimbangkan pengembangan keterampilan dan kompetensi baru. Seperti misalnya, kehadiran menggelitik meski sekilas untuk melanjutkan pendidikan formal ke jenjang master, atau sekadar mengikuti pelatihan,dan serutifikasi. Saya berharap dengan mengasah keterampilan baru akan membantu memperluas peluang karier, dan meningkatkan kepercayaan diri saya yang tergiris hilang seiring waktu.


Krisis yang saya hadapi membutuhkan keberanian untuk menghadapi tantangan dan mengambil risiko. Kadang hal ini memicu kerinduan yang dalam kepada saya versi remaja yang begitu fearless. Saya sadar sebagai perempuan di usia 40-an perlu siap untuk keluar dari zona nyaman, mencoba hal-hal baru,dan menghadapi rintangan dengan tekad kuat. Sekaligus mengasah kemampuan untuk menghadapi kegagalan dan belajar darinya akan memperkuat ketahanan diri serta membantu dalam mencapai kesuksesan jangka panjang.


Krisis di usia 40-an yang saya hadapi sebenarnya bisa dilihat sebagai kesempatan untuk pertumbuhan dan transformasi pribadi. Ada keinginan kuat yang mendidih dalam darah saya untuk dapat mengatasi krisis,dan meraih keberhasilan yang saya inginkan. Tapi saya sadar semua ini tidak akan terjadi tanpa dedikasi, mengasah keterampilan, dan tekad yang kuat. Ditambah lingkungan sosial yang mendukung.





Komentar