
Photo by: Vlada Karpovich (Pexel)
Yeay!!! Finally!!! Sebuah pekerjaan paruh waktu melandas kepadaku. Pekerjaan lepas yang biasa sering aku lakukan bebebrapa tahun lalu. Hanya saja sudah lama sekali jari ini menari di atas laptop menulis. Baru mulai beberapa hari ini aku mulai memaksakan menulis setiap hari di laman situs ini.
Oh, ya... tentang pekerjaan yang baru melandas itu, secara garis besar aku menangkap keinginan klien, eh bisa disebut klien atau pemberi kerja aka user? Apalah itu? bebas! Intinya beliau menyampaikan outline tulisan secara gamblang. Saat g-call kemaren percakapaan terjadi begitu mulus, sempat terheran-heran kok tiba-tiba bisa luwes bicara dengan stranger.
Double depression yang kambuh makin parah dua tahun belakangan, membuatku menutup diri dari dunia luar. Iya, separah itu. Semua kebutuhanku kupenuhi dengan cara online. Saking parahnya hingga kalau mau pesan sesuatu online ,ada catatan dari penjual yang menyatakan "tanyakan stok barang" kontan membuatku urung pesan. Pesanan akan otomatis batal jika sang penjual (orang asing dalam pikiranku) berani chat menanyakan sesuatu. Bahkan jika barang yang datang tidak sesuai,kurang, atau cacat, pun tidak ada keinginan untuk menghubungi penjual. Segitunya...
Pengalaman paling mengerikan adalah saat pulang dari terapi sendiri, dapat driver online yang senang ngajak ngobrol. Sepanjang perjalanan yang untungnya bisa dibilang singkat, karena jarak tak terlalu jauh. Sahaya hanya berusaha sekuat tenaga untuk bersikap sopan, menjadi pendengar yang baik, dan berusaha sekuat tenaga tidak loncat keluar mobil yang sedang melaju tersebut.
Oke, balik lagi soal pekerjaan baru yang kembali mengangkat gairah menulis yang hilang itu, ada perasaan menggelitik di perut, seperti gejolak adonan kata-kata yang siap untuk dimuntahkan. Tetapi....
Here I am...
Gadis cilik dalam diri ini tidak merasa aman untuk gagal. Iya belum mulai sudah takut untuk hasil yang jelek. Jadi..., waktu yang seharusnya kuhabiskan untuk menulis biografi singkat 900an kata, malah nyeloteh enggak keruan di sini.
Iya, sakit jiwa ini selalu saja mengintai, tak ada kejutan sih, hal ini biasa terjadi, dan seperti biasa akan berlalu. Aku dengan kemenangan telak, atau depresi yang tertawa terkekeh di sudut gelap pikiranku sambil melakukan tarian kemenangan. Dan sekali lagi, aku harus memungut serpihan harga diri, dan rasa malu, dengan menegakkan kepala sebisa mungkin.
We'll See....
Komentar