"Kerumunan Terakhir" Citra Diri yang Dibangun Penuh Kebohongan

 


 

“Setiap orang selalu merindukan cerita dari dunia yang tak pernah bisa miliki.”


Kerumunan Terakhir adalah novel yang ditulis oleh Okky Madasari. Ia dikenal sebagai salah satu penulis yang produktif dan memiliki karya-karya yang beragam. Okky telah menulis novel, cerpen, dan esai dengan tema-tema sosial dan politik yang kritis.


Setelah kesuksesan Entrok, Okky terus menghasilkan karya-karya yang menarik perhatian pembaca dan kritikus. Beberapa novelnya yang terkenal antara lain Maryam, Pasung Jiwa, dan salah satu yang saya akan bahas adalah Kerumunan Terakhir sebuah cerita tentang seorang yang gagap terhadap perkembangan dunia.


Buku ini dibagi menjadi dua dunia. Dalam dunia pertama, dikisahkan Jaya yang sangat membenci ayahnya, Sukendar, seorang intelektual dan dosen di salah satu Universitas ternama. Sang ayah selalu menasehati anak-anaknya agar menempuh pendidikan tinggi, mendapatkan pekerjaan, dan berharap mereka menjadi seperti dirinya. Rasa benci Jaya semakin memuncak ketika ibunya memutuskan untuk meninggalkan rumah akibat ulah ayahnya yang sering selingkuh.


Selain itu, Jaya juga sulit menerima perkembangan teknologi. Baginya, masa kecilnya yang dihabiskan bersama Simbah di Samigaluh jauh lebih menyenangkan daripada tinggal di kota.


Pada dunia kedua, Jaya mulai memberontak. Ia putus kuliah, menganggur, dan kabur ke Jakarta untuk menemui kekasihnya, Maera. Di sana, Maera mendesak Jaya agar melamar pekerjaan melalui internet. Maera menginginkan Jaya meninggalkan masa lalunya dan menjadi sosok baru yang hidup di Jakarta. Jaya mulai terhubung dengan berbagai orang melalui kemajuan digital. Dunia maya membuat Jaya merasa tergoda untuk mencari perhatian, popularitas, dan pengakuan.


Jaya membangun identitas baru sebagai Matajaya, seorang fotografer yang tinggal di New York. Matajaya menciptakan cerita inspiratif tentang hidupnya dan menyebarkannya untuk memikat orang lain.


Pada akhirnya, dalam bab "dua dunia bermuara," Jaya akhirnya dipenjara karena terlibat dalam beberapa kasus, termasuk menyebarkan fitnah tentang ayahnya. Jaya menyadari bahwa ia telah menciptakan masalah dalam dunia barunya sendiri. Ia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman bersama Maera dan menikahinya.


Okky Madasari mengkritisi manusia masa kini terjerat dalam penggunaan teknologi, kecenderungan untuk berkerumun,mengikuti arus, berbohong demi mendapatkan perhatian, kebanggaan, dan pengakuan, seperti yang dilakukan oleh Jaya dengan menggunakan nama palsu Matajaya.




Komentar