"My Not So Perfect Life": Sentilan Gaya Hidup Masa Kini


 

“Bloody heads and hearts, never match up, do they?”

Ketika saya butuh bacaan ringan yang menghibur, pilihan saya akan selalu jatuh ke chick lit (chick literature). Meski istilah "chick lit" telah menuai kontroversi, dianggap merendahkan perempuan, dan bagi sebagian penulis juga berpendapat bahwa genre ini dapat membatasi persepsi tentang literatur perempuan. Hal ini dapat menyebabkan pengecualian dari penghargaan dan pengakuan dalam sastra yang lebih luas. 

Tapi bagi saya pribadi chick lit juga dapat menjadi ruang bagi perempuan untuk melihat cerminan pengalaman hidup mereka sendiri dan menemukan hiburan, inspirasi, dan pemahaman dalam cerita-cerita yang memiliki kedekatan emosional.

Buku dari genre ini yang terakhir saya baca adalah My Not So Perfect Life, saya ingat membelinya di bandara Soekarno Hatta beberapa tahun silam, untuk bahan bacaan selama penerbangan. My Not So Perfect Life, karya Madeleine Sophie Wickham, dengan menggunakan pseudonym Sophie Kinsella (salah satu favorit saya) menyoroti  kehidupan Katie Brenner. Perempuan muda yang tinggal di London dan bermimpi menjadi sukses di dunia periklanan. Katie memiliki akun Instagram yang diisi dengan foto-foto yang tampak sempurna, menampilkan kehidupan glamor dan suksesnya.

Ketika Katie kehilangan pekerjaannya yang diidamkannya, dia dipaksa untuk kembali ke pedesaan dan tinggal bersama ayahnya. Dia merasa malu dan tidak puas dengan hidupnya yang tampak jauh dari sempurna. Namun, Katie berusaha untuk menjaga agar citranya yang sempurna tetap terjaga dengan memposting foto-foto yang membuat hidupnya tampak sukses dan menyenangkan.

Akhirnya Katie memulai pekerjaan baru di sebuah perusahaan media yang trendi, dia bertemu dengan boss-nya, Demeter, yang tampaknya memiliki segalanya: kecantikan, keberhasilan, dan kehidupan yang sempurna. Katie merasa iri dan memutuskan untuk mengungkapkan kenyataan di balik foto-foto sempurna yang diunggahnya di media sosial.

Namun, ketika sebuah insiden tak terduga terjadi, Katie dan Demeter terpaksa bekerja bersama dan Katie memiliki kesempatan untuk melihat sisi lain dari kehidupan Demeter yang tampak sempurna. Dia belajar bahwa tidak ada yang benar-benar sempurna, dan setiap orang memiliki masalah dan kelemahan sendiri.

Sementara itu, Katie juga menjalin hubungan romantis dengan seorang pria bernama Alex, yang merupakan teman sekaligus rekan kerjanya. Perlahan-lahan, Katie mulai menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada pencapaian atau kesempurnaan, tetapi pada menerima dan menghargai dirinya sendiri.

My Not So Perfect Life adalah sebuah novel yang menyegarkan tentang tekanan di balik citra sempurna di media sosial. Sophie Kinsella, dengan kepiawaiannya dalam menulis komedi romantis, menghadirkan kisah perpaduan sempurna antara humor, kecerdasan, dan pesan yang mendalam.

Secara keseluruhan, My Not So Perfect Life adalah sebuah novel yang menyenangkan, menghibur, dan memberikan banyak insight tentang kehidupan modern. Sophie Kinsella sekali lagi membuktikan kepiawaiannya dalam menghadirkan cerita yang memikat hati pembaca. Bagi mereka yang ingin merenungkan arti dari ketidaksempurnaan dan menemukan kebahagiaan sejati di tengah-tengah kehidupan yang kompleks, novel ini sangat direkomendasikan.


Komentar